Jika Hidup Tanpa Kompetisi

Pada dasarnya setiap manusia memiliki satu sisi diri yang gelap destruktif. Sebuah sisi egoistik dengan kecenderungan menyukai persaingan, perseteruan, bentrokan, permusuhan, perkelahian sampai narasi peperangan. Di mana ada dua pihak yang saling berseberangan, bertentangan dan berbenturan satu sama lain.

Entah sebagai pelaku yang terlibat persaingan atau sebagai pihak ketiga yang mengasyikkan diri sebagai penonton dan penyaksi. Maka tidak jarang kita temui di sekeliling kita dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang yang memilih peran sebagai “sengkuni”.

Ada juga para player yang piawai dalam drama “playing victim”. Dan mereka begitu bangga dengan perannya, meminta dukungan dan belas kasihan dari siapapun yang mengenalnya.

Para Barisan Sakit Hati

Mereka ini adalah barisan sakit hati yang entah memendam luka batin trauma atas lakon hidupnya, atau hanya terbuai percontohan yang tersaksikan dari lalu lalang visual manusia lain yang seolah “wow”.

Seperti fenomena sakit mental yang menular dan akhir-akhir ini menjadi epidemi. Di mana ketika tayangan social media menyajikan seorang tokoh idola atau selebriti kabarnya melakukan “healing teraphy” karena dugaan bipolar. Kemudian “menular” kepada netizen hanya lewat citra tayangan IG.

Banyak yang kemudian mengikuti sang idola, dengan mudahnya mengklaim dirinya sakit mental tanpa diagnosa ahli kesehatan. Buat apa? Ya, biar terlihat keren seperti yang terlihat dalam diri selebriti tersebut. Ini kan namanya suka rame-rame jadi gila, jadi tidak waras.

Sedangkan para barisan sakit hati, para sengkuni, dan si tukang playing victim itu sudah eksis di alam semesta sejak jaman baheula. Sama seperti sakit mental, mereka ini juga membawa virus menular dan mendukung terciptanya epidemi.

Di mana-mana menciptakan keadaan persaingan, perpecahan, permusuhan. Yang tidak adapun diada-adakan. Yang tidak nyatapun didramatisasi sedemikian rupa sehingga semua orang percaya bahwa itu benar-benar terjadi. Padahal hanya efek baper karepe dewe sebab kurang mendapat perhatian.

Social Media Ajang Persaingan

Apalagi jaman social media, setiap orang bebas nyinyir dan cangkeman yang penting tidak melanggar Undang-undang dan kebijakan privasi. Semakin melimpah ruahlah energi yang terbentuk untuk mengakomodasi persaingan. Bumbunya adalah narasi-narasi menyesatkan dari para pencari cuan.

Jadi ada pihak penonton dan penikmat yang sekedar demen melihat orang berkelahi, untuk memberi makan ego destruktifnya seolah menonton pertandingan klub sepak bola kebanggaan. Selanjutnya bisa bertepuk tangan berteriak yel-yel. Itu sungguh menyenangkan melihat kompetisi sengit yang cenderung memacu adrenalin.

Ibaratnya menikmati film box office sambil rebahan dan nyemil kacang goreng. Cerita filmnya dengan tema superhero versus villain. Bukankah itu hiburan yang sangat menawan?

Di sisi yang lain ada kelompok penikmat yang mulai menemukan celah untuk memanfaatkan situasi. Di antara strike dari para kompetitor, mereka bisa “jualan” atau “pasang iklan”. Produknya adalah “materi pendukung” untuk memuluskan jalan mencapai kemenangan. Dua-duanya pihak akan tergiur.

Kesimpulannya persaingan mereka adalah lahan basah untuk para pencari laba. Maka persaingan dan permusuhan sekuat tenaga diupayakan agar tetap terpelihara.

Lebih mengerikan lagi yang bergerak dengan “jurus tanpa bayangan”. Mengatur strategi di belakang panggung, mengutus dan membayar krucil-krucil tak punya kerjaan untuk memprovokasi. Membuat huru hara memancing keributan. Setelah ribut-ribut terjadi pendekar tanpa bayangan bisa bebas “mencuri”. Banyak hal bisa tercuri, karena fokus perhatian semua teralihkan ke dalam drama keributan. Tidak ada yang tahu bahwa semua itu hanya settingan.

Persaingan Ada Di mana-mana

Hidup penuh persaingan menjalar di setiap lini dan lapisan masyarakat kita. Di sudut-sudut ruang gelap pikiran, di lorong-lorong dan lembah ngarai pergumulan ego.

Setiap individu merasa baru bisa eksis jika menghanyutkan diri dalam gelombang arus hal-hal yang sedang booming dan trending topic. Supaya tidak ada yang menganggap ketinggalan mode, ketinggalan jaman. Saling berlomba membusungkan dada, mati-matian menampilkan citra visual “wah” padahal fake.

Di balik citra visual sesungguhnya penuh derai tangis darah. Karena harus memelintir fakta, membelokkan logika, mengingkari realitas dan menipu diri sendiri. “Di balik segala yang palsu sesungguhnya sedang mencipta racun sekaligus bom waktu.”

Aku Memilih Minggir

Jika Hidup Tanpa Kompetisi

Aku menjauh dari bingkai kehidupan penuh persaingan. Menciptakan realitasku sendiri, ruang petualanganku sendiri, dengan asam garam yang hanya kunikmati sendiri.

Narasi persaingan dan permusuhan tidak pernah berakhir bahagia. Sama-sama menghabiskan tenaga dan sumber daya, sama-sama terluka dan menderita. Menang tidak ada yang memberi hadiah, kalah apalagi tambah parah.

Penonton hanya melihat sekilas lalu, setelah itu lupa dan sibuk mengurus masing-masing kehidupannya. Sesungguhnya tidak pernah ada pembenci atau pecinta. Karena bagi semua orang itu hanyalah hiburan di waktu senggang belaka. Di masing-masing peran, setiap manusia hanya punya waktu untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingannya. Tidak pernah lebih dari itu.

Jadi untuk apa sibuk kebingungan dengan anggapan orang tentang diri kita? Tidak ada gunanya. Yakinlah mereka tidak pernah benar-benar peduli padamu. Mereka sudah berat dengan kisah mereka sendiri. Buat apa fokus perhatian padamu?

Maka hanya perhatikanlah dirimu sendiri. Hidup berdaulat dengan path mu sendiri. Tanpa merasa perlu bersaing. Karena tidak ada yang perlu dipersaingkan. Tidak pernah ada kompetisi yang sesungguhnya. Yang ada hanya drama. Kepura-puraan dan kepalsuan yang tampil menjadi sebuah citra. Kamu semua sudah tertipu. Tertipu karena permainan egomu.

Jika Hidup Tanpa Kompetisi

Coba melakoni hidup merdeka apa adanya tanpa doktrin pikiran dan idealisme kolektif buta. Jika hidup tidak perlu ada kompetisi, setiap orang bebas bergerak tidak terikat trend. Tidak terwajibkan mengikuti yang sedang musim, dan sedang digandrungi mainstream. Tidak disetir keseragaman, tidak terpaku “harus sama” dengan idola.

Jika Hidup Tanpa Kompetisi

Setiap manusia itu unik, istimewa dan elit. Hanya perhatikan itu dan berkembang bebaslah jiwa kesadaranmu. Maka semua akan mampu menciptakan mahakarya. Yang tentunya juga istimewa untuk menunjang kesejahteraan hidupnya.

Jika hidup tanpa kompetisi, tidak ada antagonis, tidak ada musuh maupun pesaing. Jadi pemeran utama dalam lakon masing-masing diri kita, tidak perlu menciptakan sengkuni, tidak butuh playing victim, tidak memupuk lahan basah bagi para pencari laba. Dan jiwamu akan merdeka. Engkau bebas berdaya cipta sehingga keberlimpahan membuat hidupmu semakin jaya.

Jika Hidup Tanpa Kompetisi

nunikcho.com Simak artikel saya yang lain di klubcahaya.com


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.